172

1115 Kata

“Malu-maluin..” Ariana mencubit pelan pinggang Arsa. Setelah kepergian Benyamin, Arsa selalu merutuki kebodohannya. Ia memang pencemburu. Tapi seharusnya dirinya dapat mengontrol diri lebih baik. Kelak ia dan Benyamin akan sering bertemu. “Sayang.. Please! Aku juga malu. Jangan dimarahin terus. Suster pada lihatin kita!” pinta Arsa memalas. Sebentar lagi ia akan menyandar sebagai Komisaris Utama DH (Darmawan Hospital). Tentu tidak baik jika ia memiliki julukan suami-suami takut istri. Biar Abang dan para anak-anaknya saya yang menyandang gelar tersebut. “Biar!!” “Ariana..” panggil Arsa karena sepertinya wanita itu benar marah padanya. “Hem..” “Aku jemput Mama dulu ya..” Ariana melirik Arsa. Kepalanya mengangguk, “tolong ya.. Mama juga harus tahu kalau Papa donorin darah buat Om Sadew

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN