Sebuah erangan terdengar. Ariana segera bangkit. Ia tidak hanya bertindak sebagai keponakan, tapi juga dokter yang terus mengawasi kondisi Sadewo. Ariana melakukan pengecekan setiap sepuluh detik sekali, takut-takut kalau pamannya kembali menurun. “Om..” panggil Ariana. Perlahan mata Sadewo terbuka. Ia sempat tersentak kala melihat wajah Ariana. “Ar.. Ariana!” gagapnya tak menyangka keponakan yang pernah ia sakiti ada di depannya. “Om mau minum?!” tanya Ariana cepat. Sadewo mengangguk membuat Ariana bergegas. Ia membantu Sadewo minum menggunakan sendok yang pihak rumah sakit sediakan. Sepintas keduanya seperti anak dan ayah. Ariana begitu tulus merawat Sadewo. Bahkan ketika air tanpa sengaja mengalir dari mulut Sadewo, Ariana tak segan menghapus dengan tangannya. “Ariana panggil Dokte

