Sadewo bangkit. Ia berdiri dengan seringaian andalannya yang sempat hilang. “Selamat datang.. Pada kekalahan Anda.. Hahaha...” tawa Sadewo meledak. Pria tua itu terlihat sangat senang. Kini semua kemenangan telah ada ditangannya. “Ini balasan karena kamu mengkhianati saya Arsa. Harusnya kamu mendorong Ariana menjauh. Lihat! Anak itu membawa kehancuran bukan?!” Kedua tangan Arsa mengepal. Matanya tajam, menyorot Sadewo yang tampak tak memiliki rasa takut sedikitpun padanya. “Cih.. Anak itu sudah menjadi kesialan di keluarga kami sejak lahir.” Sadewo kembali duduk. Ia memutar roda kursi hingga menghadap Arsa dan orang-orang dibelakangnya, “Wanita yang menjadi istri kamu sekarang merupakan perebut segalanya. Lihatlah bahkan setelah mendiang anakku tidak ada, dia merebut kamu. Wanita ja*lan

