“Kita berpisah disini Pak Arsa.. Saya masih memiliki kesibukan lain. Sampaikan salam saya untuk anak-anak nanti.” pamit Huanino. Pria itu meminta Fadli untuk mengantarkannya kembali ke perusahaan. “Terimakasih Pak Huan.” Arsa tak tahu harus mengucapkan kalimat apa selain terimakasih. Pria dihadapannya telah melindungi harga diri putrinya selama pertengkaran dengan Sadewo berlangsung. “Sudah tugas saya sebagai calon mertua di masa depan Pak Arsa. Saya melakukannya untuk putra saya.” jelas Huanino sebelum benar-benar pergi bersama Fadli. Arsa menghembuskan nafas. Harusnya semua kesialan hidup yang disebabkan oleh masa lalu telah usai. Ia menengadahkan kepala, menatap langit-langit gedung sembari memejamkan mata sejenak. “Arsa..” Mata Arsa terbuka. Ia menyaksikan sendiri sinar keemas

