“Tolong maafkan Dewa jika ini menjadi terakhir kami bisa memberikan hormat pada Mama. Tolong hidup lebih baik Mah. Mama hanya akan memiliki Dewo untuk seterusnya.” Sadewa membalikan tubuh. Ia merangkul Ariana, mengajak putrinya yang berlinang air mata untuk mengambil langkah. “Jangan takut Ariana.. Papa ada disamping kamu. Ayo kita tinggalkan rumah ini.” Ajak Sadewa sembari membantu Ariana untuk berjalan. Langkah kaki Sadewa berhenti kala melihat sebuah mobil terparkir disamping milik menantunya. Beberapa orang yang ia kenali keluar, berjalan cepat memasuki kediaman sang mama. “Pak Sadewa.. Kami akan membawa pulang adik kami. Bagaimana bisa ia disakiti bahkan sampai sejauh ini.” Sadewa tahu tidak akan ada keluarga yang rela jika saudaranya harus hidup satu rumah dengan madu mereka. Terl

