Arsa menggosok lantai kamar mandi luar. Ia membayangkan ubin-ubin itu adalah wajah sang kakak. Arsa mengerahkan semua tenaganya. Ia bangkit lalu melempar penggosok lantai ditangannya. “Abang sialan!” maki Arsa sembari menginjak-injak alat yang tadi Ariana berikan. “s**t!” Arsa tak habis pikir. Kenapa istrinya memberi tugas nyeleneh seperti ini. Untuk apa juga menggosok lantai kamar mandi. Arsa benar-benar tak tahu apa yang ada dalam pikiran Ariana. Ayah Isyana itu kembali berjongkok. Ia telah berjanji akan melakukan apapun yang Ariana perintahkan. Sebentar lagi mungkin Isyana akan sampai. Ia harus cepat-cepat menyelesaikan tugas pertamanya lalu memasakkan makanan untuk putri tercinta. Suara kasar pertemuan bulu-bulu sikat dengan lantai menghiasi kegiatan Arsa. Laki-laki itu benar-benar

