“Hallo Papa Dipta..” Michell melambaikan tangan. Ia kini berada di depan sang ayah- memberikan cengiran andalan sebelum dua alisnya menukik dengan wajah memberengut. “Hebat banget Papanya Mich.. Besok-besok jangan cuman polisi dong yang ditelepon. Presiden sekalian biar kita dideportasi dari negara ini karena kebodohan Papah!” ia bertepuk tangan. Michell mengipasi wajah. Andai tak mengingat peran Dipta sebagai penyumbang kehidupannya, Michell ingin sekali melakukan baku hantam. Kalau perlu sampai mereka saling mimisan. Michell yakin jika ia dan om tercintanya mampu memusnahkan manusia plonga-plongo (cengo) di depan mereka. “Kita saling kenal? Sorry saya mau cari taksi dulu.” Respon Dipta benar-benar di luar dugaan. Michell dan Arsa sampai menganga dibuat oleh bapak tiga anak tersebut.

