Ariana tak bisa menahan tawanya. Ia menutup mulut dengan satu tangan, sedang yang lain kini tengah memegangi sisir dirambut sang putri. Kedatangan mendadak Isyana menggagalkan sarapan pagi Arsa. Mereka bahkan kalang kabut sendiri, mencari cara agar Isyana tak melihat penampilan keduanya orang tuanya yang tak pantas. “Jangan tertawa Ariana..” peringat Arsa. Ia sudah sangat malu. Pagi harinya mendadak kedatangan badai petir hingga meniupkan angin taifun sekaligus. Ia harus merambat turun, merayap seperti cicak-cicak di dinding sedangkan Ariana bertugas mengalihkan perhatian si pengacau kecil agar tak melihatnya. “I am not Arsa!” Kepala Isyana berputar, “Mama..” panggil gadis kecil itu pelan. “Kenapa panggil Papa pakai nama?! Itu kan nggak sopan Mama.” Isyana memperingatkan sang Mama. Di s

