Arsa benar-benar melakukan ucapannya. Ia membahas banyak hal mengenai rumah impian miliknya dan Ariana dengan sang abang. Tidak tanggung-tanggung, Arsa menginginkan lebih banyak pekerja. "Yol.. Gimana kalau kita jual aja itu tanah?! Masih bakalan lama banget itu. Setengah tahun kalau menurut prediksi gue. Bangun rumah nggak bisa asal-asalan, Yol." peringat Dipta. Jangan sampai karena terlalu memaksa bangunan justru roboh. "Udah jadi dua puluh persen kan Bang?!" "Baru dua puluh Arsa.. Abang nggak yakin kalau dua bulan aja itu rumah bisa jadi." Benar juga.. Mereka tidak bisa gegabah. "Tabungan Arsa nggak akan cukup Bang.. Arsa nggak enak kalau ada campur tangan Ariana." "Di tabungan lo ada berapa?!" tanya Dipta. Ia yakin adiknya kaya raya. Anak itu hanya terlalu berhemat. "Kalau d

