Tangan Elara gemetar saat memasukkan beberapa ikat sayur daun kelor dan dua ekor ikan tongkol segar ke dalam tas anyaman plastiknya. Ucapan awak kapal semalam tentang perburuan yang dipimpin oleh keluarga Danendra terus berputar di dalam kepalanya, memicu kembali paranoid yang sempat mereda. Riuh rendah suara tawar-menawar di pasar tradisional pinggiran Sumba pagi ini sama sekali tidak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Ia menarik topi hitamnya semakin rendah, merapatkan kain gendongan Rhea di dadanya sembari melangkah cepat menyusuri koridor pasar yang becek. “Semuanya lima belas ribu, Mbak Rahma,” ucap penjual ikan memecah lamunan Elara. “Eh, iya, Pak, ini uangnya,” jawab Elara sembari menyodorkan selembar uang kertas dengan jari yang masih kaku. “Mbak Rahma

