“Minum dulu teh hangatnya, Rahma,” Gafar meletakkan sebuah cangkir seng berpoles enamel hijau di atas meja kayu teras yang mulai lapuk. Elara tersentak dari lamunannya, lekas menyembunyikan kartu nama hitam legam bersimbol jangkar kuningan itu ke dalam saku celananya yang longgar. Ia mengangguk kaku, mencoba mengatur napasnya yang masih memburu setelah pelarian panik dari pasar tradisional subuh tadi. Di dalam dekapan kain jariknya, Rhea mulai bergerak gelisah, mengeluarkan lenguhan kecil seolah ikut merasakan paranoia masif yang sedang merayapi seluruh aliran darah ibunya. Elara mengusap pelipis bayinya yang basah oleh keringat, menatap lurus ke arah hamparan laut Sumba yang kini permukaannya mulai menggelap ditiup angin badai. Gafar tidak langsung pergi, ia justru mendudukkan tubuhnya

