Langkah kaki Elara terhenti seketika di depan rak s**u formula. Kata-kata yang baru saja keluar dari mulut Thalia seolah merenggut seluruh pasokan udara di paru-parunya. Dingin. Ruangan pasar swalayan yang ber-AC itu mendadak terasa berkali-kali lipat lebih mencekam. Jemari Elara mencengkeram erat pegangan besi troli belanjaannya, begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Kedamaian kecil yang baru saja ia rasakan selama beberapa hari ini di rusun pinggiran kota, hancur berantakan dalam hitungan detik. Ketakutan lama yang sempat mereda kini mendadak bangkit kembali, merayap cepat dari tengkuk hingga ke dadanya, membuat jantungnya berdegup tak karuan. Namun, begitu ia mencoba mencerna kembali untaian kalimat sahabat lamanya, Elara menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Realita yang sed

