Lantai ubin Stasiun Pasar Senen terasa dingin dan sedikit licin saat dipijak. Sisa-sisa air hujan yang terbawa oleh sol sepatu para calon penumpang meninggalkan bercak basah di mana-mana. Di langit-langit stasiun, deru mesin kereta api kelas ekonomi yang baru saja merapat dari arah timur bergaung pekat, berbaur menjadi satu dengan suara monoton dari pengeras suara peron yang mengumumkan jadwal keberangkatan. Elara berjalan dengan kepala tertunduk di antara kerumunan orang yang sibuk membawa kardus besar dan tas jinjing. Ia menarik tudung jaket rajutnya lebih dalam, berusaha sebisa mungkin agar wajah pucatnya tidak memancing perhatian di tempat seramai ini. Setiap kali melewati deretan kursi tunggu besi atau bilik kios koran yang terang, dadanya berdesir aneh. Rasa cemas yang tak beralasan

