Brak! Pintu kayu tripleks unit apartemen itu tertutup dengan sentakan keras, menyisakan dentum kasar yang seolah merontokkan debu di sudut-sudut ruangan. Di dalam hunian sempit berukuran empat puluh meter persegi itu, atmosfer mendadak berubah menjadi medan pertempuran yang menyesakkan. Bunyi derit konstan dari kipas angin langit-langit yang berputar lambat sama sekali tidak mampu mendinginkan suhu ketegangan yang meluap dari d**a Arlo dan Elara. Di sudut kamar yang hanya dibatasi sekat tipis, Rhea terbangun sejenak akibat suara bentuman pintu. Anak kecil itu mengeluarkan lenguhan pendek, bergeser posisi, lalu kembali tenang di bawah pengaruh sisa obat demamnya. Arlo berbalik cepat, menyandarkan punggung tegapnya pada daun pintu yang langsung ia kunci dari dalam. Sepasang matanya yang m

