BAB 36

1339 Kata

Arlo tidak menunggu izin dari pemilik rumah, ia langsung mendorong pintu kayu yang seret itu hingga terbuka lebar dan melangkah masuk ke dalam kamar sewa Elara. Pandangan matanya menyapu setiap sudut ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu dengan gurat penghinaan yang tidak ditutupi sedikit pun pada wajah tampannya. Pasak kayu tanpa plesteran semen yang memperlihatkan celah luar, kasur kapuk tipis di atas ranjang lamtoro, dan kipas angin plastik berdebu di sudut meja menjadi objek sasarannya. Meskipun mulutnya berdecak muak melihat kondisi ruangan yang pengap dan panas ini, sepasang mata tajamnya sama sekali tidak bisa beralih dari sosok Rhea yang berada di dekapan Elara. “Keluar dari kamarku, Arlo! Tempat ini terlalu rendah untuk kaki maharmu yang biasa menginjak lantai marmer Jakarta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN