“Lihat ini,” Elara melempar benda plastik kecil itu ke atas meja kerja kayu yang vernisnya sudah mulai mengelupas di beberapa sudut. Benda berbenturan pelan dengan permukaan meja, menciptakan bunyi nyaring yang memutus kesunyian ruangan apartemen milik Thalia. Thalia menutup mulut dengan kedua telapak tangan, matanya membelalak lebar melihat dua garis merah yang tercetak sangat jelas di sana. Ruangan mendadak terasa sangat sempit bagi mereka berdua, seolah oksigen di sekitar mereka terserap habis oleh kehadiran indikator kehamilan tersebut. “Dua garis?” Thalia bersuara mencicit, ia menatap benda itu dengan tatapan tidak percaya yang tertuju langsung pada mata Elara. “Kamu pikir aku sedang bercanda saat ini?” Elara duduk lemas di sofa beludru, meremas tangannya yang terasa sedingin es.

