BAB 16

1257 Kata

“Duduklah, Elara. Kamu terlambat dua puluh menit.” Suara Aruna Maheswari memotong udara butik yang sunyi, tenang namun memiliki tekanan yang sanggup meruntuhkan nyali. Elara melangkah di atas karpet beludru tebal yang meredam suara sepatunya, tetapi tidak mampu meredam dentum jantung di dadanya. Aruna duduk di sofa panjang dengan segelas teh kamomil, tampak seperti ratu yang sedang menanti laporan dari bawahannya. Di atas meja kaca, beberapa nampan berisi deretan cincin berlian dan kalung zamrud berkilauan tertimpa cahaya lampu kristal yang tajam. Elara duduk di hadapan wanita itu, berusaha menjaga punggung tetap tegak meski perutnya mulai bergejolak hebat. Aroma lilin aromaterapi mawar yang memenuhi ruangan mendadak terasa sangat menyengat, memicu gelombang mual yang naik hingga pangkal

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN