Keheningan malam perbukitan yang mencekam mendadak pecah oleh suara tangisan melengking dari kamar bayi di lantai bawah. Elara yang sejak sore terkurung dalam pusaran kecemasan akibat kabar tentang Kalandra, seketika tersentak dari ranjangnya. “Nyonya Elara, mohon tetap di dalam kamar. Ini instruksi Tuan Arlo,” cegat seorang pengawal berseragam hitam saat Elara membuka pintu ganda kamarnya. “Minggir! Apa kalian tidak mendengar anakku menangis histeris di bawah?!” bentak Elara, matanya berkilat penuh amarah. Tanpa memedulikan dinginnya lantai marmer yang menusuk telapak kaki telanjangnya, ia menyentak lengan pengawal itu dan berlari kencang menuruni undakan tangga, membelah barisan penjaga yang tampak bersiaga penuh di sepanjang koridor. Begitu pintu kamar bayi didorong terbuka, aroma mi

