Matahari pagi menembus celah-celah tirai jendela kamar bayi dengan pendar keemasan yang lembut. Setelah malam yang melelahkan dan menguras seluruh emosi batin, keadaan di dalam kamar itu jauh lebih tenang. Elara meregangkan otot-otot lehernya yang kaku sebelum melangkah mendekati boks bayi. “Bagaimana suhunya sekarang, Suster?” tanya Elara dengan suara yang teramat lirih, takut mengusik tidur nyenyak putrinya. Suster Lastri yang sedang merapikan pakaian bayi di sudut ruangan segera menoleh dan tersenyum lega. “Sudah benar-benar stabil di angka tiga puluh enam koma lima derajat, Nyonya Elara. Berkat Tuan Arlo yang terjaga semalaman mengompresnya, masa kritisnya sudah lewat.” Elara menghela napas panjang, menatap wajah polos Rhea. “Syukurlah. Tolong jaga dia sebentar, Suster. Saya ingin k

