Hening yang tercipta setelah pengakuan Arlo terasa begitu pekat dan mencekik. Elara berdiri mematung di balik meja mahoni, meremas map kulit cokelat berisi berkas Beasiswa Altamis dengan kekuatan yang tersisa di jemarinya. Udara di dalam ruang kerja itu terasa kaku, sarat akan aroma sandalwood dan ketegangan psikologis yang masif. Arlo masih berdiri bersandarkan tepian meja, melipat kedua tangannya di d**a dengan ekspresi yang sulit dibaca. Sepasang manik mata elangnya menatap Elara lurus, seolah tidak terpengaruh oleh badai amarah yang sedang berkecamuk di dalam lingkaran emosi istrinya. “Kamu ... kamu sudah merencanakan ini semua sejak awal, kan?” suara Elara keluar dalam bisikan serak yang bergetar hebat. “Sejak aku masih di Sumba. Sejak aku menginjakkan kaki di Jakarta. Hidupku selam

