Keheningan yang merayap di dalam vila perbukitan Danendra Group pasca-ledakan di ruang kerja sayap barat berubah menjadi sejenis senjata baru. Elara tidak lagi berteriak. Ia tidak lagi memprotes barisan pengawal bersenjata yang mengepung perimeter rumah, tidak juga mempertanyakan pembatasan taktis atas jaringan komunikasi yang diberlakukan Arlo. Kemarahan besarnya telah membeku menjadi dinding es yang teramat tebal, kokoh, dan mustahil untuk ditembus oleh materi apa pun di dunia ini. Aksi tutup mulut dimulai sejak fajar hari berikutnya. Elara menjalankan seluruh rutinitas domestiknya dengan presisi mutlak seorang Nyonya Danendra yang sempurna. Di depan para pelayan, Suster Lastri, dan bahkan di depan Dokter Wijaya yang sesekali memeriksa perkembangan Rhea, Elara tampil anggun, tenang, dan

