Matahari sore tenggelam di balik punggung perbukitan, meninggalkan semburat warna merah darah yang seolah melukiskan atmosfer mencekam di atas langit vila Danendra Group. Begitu mobil sedan mewah yang membawa Elara kembali dari gedung pusat metropolitan melewati gerbang perimeter utama, hawa dingin yang tidak biasa langsung merangsek masuk menembus celah udara. Elara melangkah turun sembari mendekap erat keranjang bayi portabel tempat Rhea tertidur lelap. Sepanjang koridor utama menuju ruang tengah, langkah kakinya disambut oleh pemandangan yang teramat asing. Barisan pengawal berseragam hitam yang biasanya berdiri kaku penuh kedisiplinan taktis kini tampak bergerak gelisah. Beberapa di antaranya sibuk menerima panggilan melalui radio internal dengan suara tertahan. “Di mana Tuan Arlo, R

