Ketukan keras di pintu apartemen pagi itu sama sekali tidak terdengar seperti ketukan biasa. Bunyinya begitu konstan, kaku, dan penuh tuntutan, seketika mengusik ketenangan udara di kawasan pinggiran kota. Elara yang sedang merapikan beberapa helai pakaian Rhea di atas kasur langsung menghentikan aktivitasnya. Perasaannya mendadak tidak enak. Ada semacam intuisi seorang ibu yang mengirimkan sinyal bahaya ke seluruh rongga dadanya. Arlo, yang baru saja selesai menyeduh teh di dapur kecil, bergerak lebih cepat. Ia meletakkan cangkirnya, lalu melangkah tegap menuju pintu depan. Begitu selot pintu dibuka, sosok seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi khas kurir hukum sudah berdiri di sana. Tanpa banyak bicara, pria itu menyerahkan sebuah amplop besar berwarna cokelat tebal dengan seg

