Gerbang besi tinggi berwarna kelabu pucat itu terbuka perlahan, mengeluarkan derit ngilu yang memotong keheningan kawasan perbukitan yang sejuk. Kompleks pusat rehabilitasi mental dan ketergantungan zat di pinggiran kota ini berdiri begitu terisolasi, dikelilingi oleh pepohonan pinus tinggi yang melambai lambat ditiup angin pegunungan. Tempat ini terlalu sunyi untuk seseorang yang terbiasa hidup di tengah gemerlap lampu kasino dan perputaran uang miliaran rupiah di jantung ibu kota. Arlo Danendra melangkah keluar dari mobil hitamnya. Langkah kakinya terdengar konstan dan tegas di atas jalan setapak berbatu, memecah kesunyian taman belakang kompleks perawatan. Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap yang menyembunyikan postur tubuh kokohnya di balik dinginnya udara pagi. Pandangannya

