Pagi hari di kawasan Jakarta Timur terasa hangat dan membumi. Di balik pagar besi tempa hijau yang dihiasi rimbunnya tanaman melati dan pohon rambutan, berdiri sebuah kompleks bangunan dua lantai berarsitektur tropis yang begitu bersahaja. Papan kayu jati yang terpasang rapi di dekat pintu masuk mengukir nama “Yayasan Anyelir”—sebuah panti asuhan sekaligus pusat pemberdayaan perempuan yang kini dikelola penuh oleh Thalia. Suasana di tempat ini sangat bertolak belakang dengan dinginnya galeri seni berkonsep eksklusif di Senopati. Udara pagi riuh oleh derai tawa anak-anak yang asyik berlarian di atas rumput. Langkah-langkah kaki kecil, tepukan tangan riang, dan celoteh polos mewarnai setiap sudut halaman. Thalia berdiri di teras depan sambil menggenggam papan jalan berisi daftar inventar

