“Awas langkahnya, Mbak, di sini tanahnya agak licin kalau habis kena ombak pasang,” ujar Gafar sembari menurunkan koper hitam kecil milik Elara ke atas lantai teras rumahnya yang terbuat dari papan kayu lamtoro. Elara mengangguk canggung, menarik topi hitamnya sedikit lebih rendah untuk menghalau silau matahari yang membakar pesisir Sumba Timur pagi itu. Setelah menempuh perjalanan estafet yang menguras seluruh sisa energinya, ia akhirnya tiba di titik terjauh yang bisa dijangkau oleh uang tunainya. Perjalanan dari Jakarta menggunakan kereta malam melintasi Jawa, kapal feri di selat, hingga angkutan pedesaan yang berdebu benar-benar melemahkan kondisi fisiknya. Kota kecil di pinggiran Sumba ini terasa begitu sepi, hanya menyisakan suara deburan ombak rendah dan gemerisik daun pohon kelapa

