“Turun, Elara. Kita sudah sampai,” ucap Arlo saat mobil mewah itu akhirnya berhenti setelah menempuh perjalanan dua jam dari Bandara Halim Perdanakusuma. Elara membuka matanya yang sembap, menatap keluar jendela kabin yang kedap. Di balik kaca mobil yang gelap, tidak ada pemandangan gedung-gedung tinggi kawasan Sudirman atau gemerlap lampu apartemen lamanya di Jakarta Pusat. Sejauh mata memandang, yang ada hanyalah deretan pohon pinus tinggi dan sebuah gerbang besi hitam raksasa yang dijaga ketat oleh tiga pria berseragam taktis. Mobil kembali melaju lambat, melewati jalanan beraspal mulus yang membelah halaman rumput super luas, menuju sebuah vila megah bergaya kolonial modern yang berdiri terisolasi di kawasan perbukitan dingin pinggiran kota. “Ini bukan rumahku, Arlo. Kamu mau menyemb

