Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah jendela kaca apartemen itu tidak lagi terasa asing atau mengintimidasi. Semburat cahayanya yang kekuningan jatuh tepat di atas permukaan meja kayu lipat yang kini beralih fungsi menjadi ruang kerja bersama. Di sana, tidak ada lagi tumpukan dokumen hukum bersampul tebal yang menegangkan, tidak ada pula berkas audit yang memusingkan kepala. Yang tersisa hanyalah sebuah laptop tua milik Elara yang sesekali mengeluarkan bunyi derit halus saat kipasnya berputar, bersanding dengan secangkir kopi hitam yang uapnya masih mengepul tipis di dekat siku Arlo. Kehidupan baru mereka di kawasan pinggiran kota ini benar-benar dimulai dari nol, tepat di atas puing-puing sisa kejayaan yang telah runtuh tak berbekas. Setelah skandal besar itu memaksa Ar

