Kertas sertifikat hasil tes DNA itu merosot dari jemari Elara, jatuh tak berdaya di atas selimut sutra yang dingin. Angka 99,9% yang tertera di sana seolah menjelma menjadi jeruji besi kasat mata yang mengunci rapat seluruh sisa ruang pelariannya. Suara deru angin badai pegunungan di luar jendela vila kini terdengar seperti sorak kemenangan bagi pria yang berdiri menjulang di hadapannya. Arlo Danendra tidak memberikan waktu sedetik pun bagi Elara untuk meratapi kekalahannya. Dari balik jasnya, ia kembali mengeluarkan seberkas dokumen tebal bersampul kulit hitam. Ia menjatuhkannya tepat di atas dokumen medis yang baru saja meremukkan harga diri Elara. Sebuah pulpen berujung emas diletakkan di sampingnya dengan ketukan pelan yang terdengar begitu intimidatif. “Itu adalah kontrak perjanjian

