“Sebutkan namanya, Elara!” Kalandra menghentakkan tubuh Elara hingga punggung wanita itu membentur pilar ruang tengah mansion. Cengkeraman Kalandra di lengan kanan Elara terasa sangat panas, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulit pucatnya. Elara hanya bisa menggelengkan kepala, air matanya jatuh membasahi lantai marmer yang dingin di bawah kaki mereka. Mulutnya terkunci rapat karena ia tahu satu nama yang keluar dari bibirnya akan menghancurkan seluruh silsilah hidupnya detik ini juga. “Lepaskan aku, Kalandra, sakit!” Elara berusaha menarik lengannya yang terkunci kuat. “Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kamu mengatakan pria mana yang sudah menodaimu!” Kalandra kembali berteriak, napasnya memburu di depan wajah Elara. “Kenapa kamu harus menyiksanya jika kamu bisa mendapat

