Ketegangan yang sempat menguras energi di kantor penerbitan siang tadi perlahan-lahan menguap, berganti dengan kesunyian malam yang merayap tenang di kawasan pinggiran kota. Angin berembus lembut, membawa sisa aroma tanah basah setelah gerimis tipis mengguyur jalanan aspal di bawah sana. Di dalam kamar tengah yang remang, Rhea sudah tertidur pulas sejak satu jam yang lalu. Selimut tebal bermotif kartun membungkus tubuh mungilnya dengan hangat, meninggalkan keheningan yang damai di seluruh sudut apartemen sederhana berukuran empat puluh meter persegi itu. Elara melangkah pelan menuju balkon kecil di bagian belakang apartemen. Area itu sangat sempit, hanya cukup untuk dua kursi lipat plastik dan sebuah meja kayu bundar di antaranya. Di atas meja, dua cangkir teh melati yang masih mengepul t

