“Berdarah juga akhirnya rahang kokohmu itu, Arlo!” Kalandra melompat maju, melayangkan tinju kedua tepat ke arah tulang pipi Arlo Danendra. Suara hantaman fisik kembali bergema nyaring, menciptakan bunyi redam yang sangat mengerikan di dalam keheningan ruang tengah mansion Altamis. Arlo terhuyung ke belakang, menabrak pinggiran meja kayu hingga beberapa dekorasi kristal di atasnya bergetar hebat hampir jatuh ke lantai. Pria itu tidak membalas serangan tersebut, ia hanya menegakkan kembali tubuhnya lalu menyeka tetesan darah segar di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan. Matanya yang hitam pekat menatap Kalandra dengan kilatan meremehkan yang justru semakin menyulut api kemarahan di dalam ruangan. “Pukulanmu terasa sangat lemah untuk ukuran pria yang menduduki posisi direktur utama,

