Siang itu, ruangan Liam masih dipenuhi aroma kopi sisa makan siang dan tumpukan berkas yang belum sempat dirapikan. Liam dan Arka berdiri berhadapan di dekat meja kerja, membahas angka-angka dan proyeksi yang tadi sempat tertunda karena rapat lain. Clara mengetuk pelan sebelum masuk ke ruangan sang papa. “Kalian lagi sibuk?” tanyanya sambil melangkah ke dalam, tasnya sudah tersampir rapi di bahu. Penampilannya lebih santai dari biasanya. Gaun simpel, rambut diikat rendah. Tanda jika ia memang tidak berniat kembali ke kantor hari ini. Liam menoleh dan tersenyum. “Kenapa, Cla?” “Aku mau izin pulang lebih dulu, Pa,” katanya. “Sore ini ada acara ulang tahun temen.” Arka otomatis menoleh. Ada sesuatu dalam caranya berdiri. Ringan dan selalu berhasil menarik perhatian Arka tanpa usaha. “U

