Malam turun dengan tenang, tapi tidak dengan perasaan Clara. Di meja makan, ia hampir tak banyak bicara. Menjawab seperlunya, mengangguk seperlunya. Bahkan sendok di tangannya bergerak lebih lambat dari biasanya. Arka memperhatikan semuanya dari balik gelas minumnya. Ia tidak perlu jadi ahli untuk tahu auranya masih mengambek. Dan itu mengganggunya. Selesai makan malam, Clara langsung berdiri lebih dulu. “Aku ke kamar,” katanya singkat, lalu melangkah menuju tangga tanpa menunggu siapa pun. Arka menyandarkan punggungnya sebentar ke kursi, lalu ikut berdiri. Ada keputusan kecil tapi tegas di matanya. Ia menunggu. Begitu Clara sampai di lantai dua dan berhenti di depan pintu kamarnya, tangan Arka lebih dulu menahan daun pintu itu sebelum sempat tertutup. “Clara.” Clara menegang. Ia m

