Lampu-lampu kuning keemasan memantul di karpet merah tua, sementara suara musik pesta masih terdengar sayup dari ballroom di lantai bawah. Clara berjalan limbung di samping Dafa. Senyumnya samar, langkahnya tak lagi seimbang. Kepalanya terasa ringan, dadanya hangat dengan cara yang asing Tidak nyaman, tapi juga tak cukup kuat untuk membuatnya sadar sepenuhnya. “Pelan, Cla,” ucap Dafa, tangannya mencengkeram pergelangan Clara. Bukan menggandeng, lebih seperti menahan. “Kita istirahat sebentar di kamar. Kamu kelihatan capek.” Clara mengerjap, berusaha fokus. Ada sesuatu yang salah, tapi pikirannya seperti diselimuti kabut. Ia hanya mengangguk kecil. Dafa tersenyum. Ia merasa sangat puas. Langkah mereka baru beberapa meter dari pintu kamar ketika sebuah suara dingin menghentikan semuanya.

