Clara akhirnya terlelap menjelang dini hari. Napasnya yang sempat terengah kini mulai teratur. Rintihan kecil yang tadi lolos dari bibirnya perlahan menghilang, tergantikan dengkusan pelan setiap kali ia berganti posisi. Efek itu benar-benar berangsur turun. Tidak sekaligus, tapi cukup untuk membuat tubuhnya menyerah pada lelah. Arka memastikan selimut menutupinya dengan rapi. Ia melakukannya dari jarak aman, hanya ujung jarinya yang menarik kain, lalu segera mundur. Tidak ada sentuhan lebih lama dari yang perlu. Ia kemudian menjauh. Sofa di sudut ruangan menjadi pilihannya. Arka duduk di sana dengan punggung bersandar, tangan terlipat di d**a, pandangan mengarah ke jendela yang memantulkan cahaya kota. Ia sengaja membiarkan jarak itu ada karena terlalu peduli. Terlalu mudah untuk terb

