Ketika Anda mengunjungi situs web kami, jika Anda memberikan persetujuan, kami akan menggunakan cookie untuk mengumpulkan data statistik gabungan guna meningkatkan layanan kami dan mengingat pilihan Anda untuk kunjungan berikutnya. Kebijakan Cookie & Kebijakan Privasi
Pembaca yang Terhormat, kami membutuhkan cookie supaya situs web kami tetap berjalan dengan lancar dan menawarkan konten yang dipersonalisasi untuk memenuhi kebutuhan Anda dengan lebih baik, sehingga kami dapat memastikan pengalaman membaca yang terbaik. Anda dapat mengubah izin Anda terhadap pengaturan cookie di bawah ini kapan saja.
If you would like to learn more about our Cookie, you can click on Privacy Policy.
Aku menghela napas lega, meski belum benar-benar sepenuhnya. Aku merasa lega karena hasil dari tes DNA rambut yang ditemukan di kresek hitam adalah milik Jo dan Mas Angga. Kuulangi sekali lagi ya, DNA rambut itu milik Jo dan MAS ANGGA. Dengan adanya hasil tes ini, teman Ayah akan semakin berhati-hati dalam melaporkan bukti ke polisi. Mengenai siapa saja yang tahu, itu baru beberapa orang. Aku bahkan belum memberi tahu Anna, karena saat ini sudah larut malam. “Lega, Al?” tanya Ayah, begitu beliau ikut duduk di sebelahku, dan menyandarkan badannya di sandaran sofa. “Banget, Yah. Ya meski belum seratus persen, tapi setidaknya hasil tes bisa dijadikan bukti kuat. Juga, aku merasa pradugaku selama ini enggak asal-asalan.” Ayah mengangguk.