“Sibuk?” Djiwa bertanya setelah mengetuk pintu ruang kerja Atika yang terbuka. Wanita itu sedang serius menatap laptop, dengan kacamata yang tergantung di pangkal hidung. “Meeting?” Atika mengibaskan tangan. “Cuma balasin chat grup. Kenapa?” “Aku mau bicara sebentar,” ucap Djiwa masih berdiri di bibir pintu. “Papa di mana?” Atika melepas kacamatanya. Jika Djiwa ingin bicara dengan dirinya dan Irsyad, itu artinya ada hal penting yang akan disampaikan. “Sama burungnya di belakang,” ucap Atika kemudian beranjak pelan. “Kita bicara di sini? Atau di belakang?” "Di sini.” Djiwa mengarahkan telunjuknya ke arah belakang, bersiap melangkah. “Biar aku panggil—” “Biar Mama aja,” potong Atika, segera melewati Djiwa dengan langkah cepat. “Tunggulah di dalam. Mama sekalian ambil air di dapur.” At

