“Saya jemput jam lima sabtu nanti,” ucap Djiwa sembari berjalan memasuki lobi bersama Nila. “Jadi, kamu bisa siap-siap sebelum itu.” “Jam lima itu masih terlalu sore.” “Saya harus bicara dengan ibumu dulu, kan?” “Ohh ... iya juga,” jawab Nila semakin serba salah. Namun, Nila bertanya-tanya, kenapa ia tidak langsung menolak ajakan Djiwa? Padahal, hal itu bisa dengan mudah Nila lakukan. Tidak perlu pergi makan malam dan masalah selesai. Nila, menolak Djiwa. Seharusnya itulah yang terjadi, bukan sebaliknya. Nila justru tidak menolak diajak makan malam dan terjebak dengan perasaan yang membingungkan. “Tapi, Pak ...” Nila mengusap tengkuknya. Mulai merasa skeptis dengan makan malam tersebut, karena khawatir dengan respons orang tua Djiwa. “Gimana kalau orang tua Bapak tahu, kalau saya ..

