30~SN

1439 Kata

Nila terbatuk. Tersedak jeruk hangat yang baru diminumnya, setelah mendengar ucapan Djiwa. Yang lebih membuatnya tidak habis pikir ialah, pria itu tetap bertahan dengan ekspresi seriusnya. Tidak ada tatapan atau senyum hangat penuh cinta, yang bisa membuat Nila percaya dengan perkataan pria itu. “Bapak becanda?” tanya Nila meletakkan kembali gelasnya. Djiwa menggeleng pelan dan tegas. “Saya serius.” “Bapak mau nikah sama saya?” “Ya.” Nila berdehem. Bahkan sengaja batuk, untuk melegakan tenggorokannya. Situasi yang terjadi benar-benar di luar dugaan. “Saya bukan mau nolak Bapak,” ucapnya canggung, serba salah, dan salah tingkah. “Tapi, Bapak tahu sendiri kalau saya sudah memutuskan untuk nggak nikah. Lagian, nikah itu butuh cinta. Dan kita?” “Cinta bisa datang karena terbiasa,” ujar

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN