" Dia adalah pria yang paling aku sayang. Dia orang yang selama ini melindungiku. "jawab Amel dengan nada dinginnya, dan mendengar jawaban Amel, Bian langsung mengepalkan kedua tangannya kuat, menahan emosi, dan juga cemburu secara bersamaan. "Jadi benar, kalau kamu menginginkan pria itu? Kamu lebih memilih membatalkan pernikahan kita hanya demi pria itu? kamu sayang sama dia? "tanya Bian dengan wajah yang sudah terlihat sangat merah, mungkin Bian bener-bener kesulitan menahan emosinya. " Sayang itu belum tentu cinta. Menyayangi Saudara bukan berarti mencintai saudara kan. Jadi aku rasa Papa ngerti maksud perkataanku. " ujar Amel yang membuat emosi Bian seketika redup, dan dengan perlahan menyentuh kedua pundak Amel, Selalu beralih menyentuh pipi Amel, dan mengelusnya dengan lembut. "T

