Jindan memasuki area pabrik dan segera memarkirkan motornya di tempat biasanya. Suasana hatinya sedang baik. Pikirannya terus saja teringat akan istrinya. Tanpa dia sadari, senyumnya terus bersembunyi di kedua bibirnya. “Ndan!” Suara teman satu divisinya, Aziz, terdengar dari arah belakang diiringi tepukan di bahunya. Jindan sontak menoleh. “Aziz? Kamu juga baru datang?” Jindan melambatkan lagkahnya agar mereka bisa berjalan beriringan. Aziz mengangguk. “Hampir saja tadi aku ijin.” “Oh iya? Kenapa?” “Istriku tadi merajuk. Aku jadi tidak eg mau meninggalkannya.” Aziz cemberut. Jindan terkekeh. “Kau apakan istrimu?” “Dia sedang bermain game di ponselku. Lalu tiba-tiba saja ada pesan masuk dari teman SMA-ku dulu. Dan dia langsung marah.” Aziz mengela nafas. “Hanya membaca pesan saja d