Tidak ada yang tahu bagaimana malunya Bilqis. Sepanjang perjalanan, dia terus menundukkan wajahnya. Istri Jindan itu sama sekali tidak mengangkat wajahnya. Jika tatapan mereka bertemu di spion, Bilqis langsung kembali menunduk atau berpura-pura melihat yang lain. Sungguh menggemaskan! Bibir Jindan terus saja berkedut menahan senyum melihat tingkah sang istri. Tidak pernah sekalipun terlintas di benaknya Bilqis bisa seimut ini saat malu. Wajah istrinya masih memerah, membuat Jindan bertambah gemas. Jindan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Dia sengaja mengendarai motornya dengan pelan. Pria itu tidak rela jika sensasi mendebarkan ini berlalu dengan cepat. Sepertinya kalau diajak jalan, suasananya cocok. Tapi tadi aku sudah terlanjur masak. Atau mungkin aku ajak beli jajanan saja ya?