Decitan suara kasar ban yang beradu dengan aspal jalanan, memekakkan telinga bagaikan lonceng kematian. Rania terbangun, napasnya terengah dengan cucuran keringat dingin di sekujur tubuh. Butuh beberapa saat untuk Rania mengembalikan kesadaran dirinya, menormalkan deru napas dan detak jantung yang tak karuan. Ia berhasil menguasai tubuhnya kembali, buru-buru mengedarkan pandangan ke sekeliling. Seingatnya, semalam Rania duduk di luar balkon untuk memandangi keindahan langit malam bertabur bintang. Ia tak bisa tidur, setiap kali melihat wajah Rehan yang terlelap, suara-suara aneh itu bermunculan di dalam kepala. Itu kenapa Rania memilih menyendiri di luar balkon, berharap rasa kantuk mampu menyingkirkan suara-suara provokasi di dalam pikirannya yang meminta ia untuk membunuh Rehan. Rania b

