Rehan berjalan memasuki kamar mamanya, tak sabar menunggu di bawah bersama papanya yang lebih asyik dengan tablet. Papanya memang benar-benar workaholic, di mana pun, kapan pun, selalu saja pekerjaan yang diurus. Baik secara langsung, atau memantaunya lewat laporan-laporan yang diterima di tabletnya. Itu kenapa Rehan merasa bosan harus menunggu bersama papanya yang sudah larut dengan pekerjaan, lalu ia memutuskan menyusul ke kamar mamanya. Karena sudah setengah jam mamanya dan Rania tak kunjung turun menunjukkan batang hidungnya. Padahal tadi mamanya sendiri yang mengingatkan agar jangan sampai telat datang ke acara penggalangan dana yang diadakannya bersama teman-teman sosialitanya. Rehan mendengkus saat tiba di ambang pintu kamar mamanya yang terbuka. Pandangannya tertuju pada mamanya y

