Usapan lembut di pipi berhasil membangunkan Rehan dari mimpi buruknya. Napasnya sempat terengah, diiringi keringat dingin yang membanjiri dahi. Kecelakaan sembilan tahun silam kembali terngiang-ngiang di kepala, menjadi momok mengerikan dan selalu datang ketika matanya terpejam. Berhari-hari Rehan lalui malam-malamnya dengan kengerian, yang memaksanya terbangun di tengah malam dan tak bisa tidur lagi jika tanpa bantuan obat tidur. Namun, malam ini berbeda. Jika malam-malam sebelumnya ia hanya disambut langit-langit kamar dan kesunyian dalam gelap, maka malam ini dalam keadaan kamar temaram yang hanya mengandalkan sorot lampu tidur di atas nakas samping tempat tidurnya, ia bisa menangkap sosok lain di dalam kamarnya. Sosok yang kehadirannya selama dua minggu ini sangat Rehan rindukan, dam

