Jika ini memang benar hanya sebuah mimpi ...? Rehan rela tak bangun lagi. Ia rela menyelami mimpi indah ini, meski harus mengorbankan kehidupannya, asalkan ia mengarunginya bersama Rania. Wanita yang selalu ia cintai, sampai ajal menjemput. Bahkan demi mempertahankannya, Rehan rela menukar dengan nyawanya sendiri. Meskipun ia tahu hal itu tak akan berarti apa-apa untuk Rania, kehidupannya yang bahagia tak akan kembali walau nyawa Rehan sebagai gantinya. "Kenapa kamu diam saja?" Suara itu, terasa fana juga terdengar nyata di telinga Rehan. Suara Rania yang terdengar indah bagaikan melodi, juga terdengar menggoda dan membuat tubuhnya panas dingin. Ditambah posisi Rania yang berada di atasnya, bergerak lincah, membangkitkan gairah Rehan yang susah payah ia redam sejak tadi. "Kamu tak menyuka

