Kadang yang menyakitkan itu bukanlah kepergian, tapi kenyataan yang tak dapat diterima. Kenyataan yang lebih pahit dari empedu, kenyataan yang lebih tajam dari mata pisau dan kenyataan yang seakan membuat hidup tak lagi berarti. Seperti yang Rania alami, kehilangan orangtua memang sangat menyakitkan untuknya. Bahkan butuh waktu lama untuk dirinya menerima kenyataan bahwa ia tak lagi memiliki orangtua. Stres sampai membuatnya frustrasi dan nyaris depresi karena hal tersebut. Bertahun-tahun hidupnya serasa hampa, meski ia mampu menutupinya dengan seulas senyum palsu, berpura-pura baik-baik saja, berlagak seakan kuat dan tegar, padahal kenyataannya sangat hancur. Orangtuanya adalah dunia Rania, dan ia kehilangan dunianya yang beharga. Namun, siapa kira jika ada hal yang lebih menyakitkan da

