Meeting dengan pihak Soto Halimah berjalan lancar. Manajemen Soto Halimah sudah memberikan semua materi yang dibutuhkan untuk dipelajari lebih lanjut.
“Tadi sudah dicatat semua yang penting- penting?” tanya Gerald, ketika mereka keluar dari ruang meeting.
“Aman, Pak,” jawab Monic.
Kasus sengketa itu ternyata bukan sekadar soal bisnis, melainkan luka lama yang tak pernah sembuh. Soto Halimah, yang dulu berdiri megah sejak 1995, awalnya menjadi simbol kebersamaan pasangan suami istri itu. Gerainya ramai, cabangnya menjamur, dan nama “Soto Halimah” dikenal luas sebagai jaminan rasa. Namun, di balik kesuksesan itu, rumah tangga mereka perlahan retak.
Tahun 2008 menjadi titik balik. Perceraian memutus ikatan, dan kepemilikan Soto Halimah jatuh ke tangan sang istri. Ia berusaha mempertahankan warisan yang sudah dibangun dengan darah dan air mata. Tapi luka lama tak berhenti di sana. Dua tahun kemudian, sang mantan suami muncul kembali dengan gerai baru bernama Soto Ny. Halim.
Yang membuat api sengketa semakin berkobar adalah keberaniannya memakai logo lama, hanya diubah menjadi versi animasi. Bagi sang istri, itu bukan sekadar pelanggaran, melainkan pengkhianatan atas sejarah panjang yang pernah mereka jalani. Sengketa pun berubah jadi perang harga, gengsi, dan kenangan yang tak pernah benar-benar hilang.
“Pelajari dulu materinya. Cari celah-celahnya, dan kalau perlu survei lapangan, langsung jalan saja. Dari sana nanti baru mulai susun draft legal opinion.”
“Siap, Pak.”
Dari lokasi meeting pertama, Gerald membawa Monic ke lokasi meeting kedua, yang mana adalah agenda Monic. Sejak minggu Ialu, Monic minta Gerald meluangkan waktu untuk bertemu dengan sebuah perusahaan ventura Iuar negeri yang sedang berencana menanamkan modal di Indonesia. Ada hal-hal hukum substansial yang menurut Monic perlu Gerald jelaskan sendiri kepada si calon klien, agar nggak terjadi salah informasi.
Meeting kedua ini juga berjalan lancar dan berjalan nggak lebih dari satu jam. Sang klien setuju untuk melanjutkan proses perizinan dan lain-lain melalui InCorp.
“Bapak nanti kembali ke kantor?” tanya Monic ketika mereka keluar dari coworking space, tempat pertemuan itu berlangsung.
Gerald menatap jam tangannya. “Nggak. Saya mau ketemu orang di Plaza Indonesia.”
“Oke.” Monic ikut-ikutan menatap jam tangannya. Sudah pukul 16.15. Sungguh waktu yang nanggung untuk kembali, tapi juga belum waktunya pulang.
“Kalau nggak ada yang urgen, nggak perlu kembali ke kantor,” kata Gerald, seolah tahu isi pikiran Monic.
“Oke, Pak! Terima kasih,” sahut Monic senang.
“Kalau begitu kita berpisah di sini ya, Pak? Nanti analisanya saya kirim via email.”
Gerald menatapnya selama satu atau dua detik. “Kamu mau ke mana? Kalau searah, bisa bareng sekalian.” Monic menyebut daerah rumahnya.
“Bisa sekalian itu,” kata Gerald.
“Aduh, nggak usah, Pak. Saya bisa naik ojol atau takol aja dari sini. Malah ngerepotin Pak Gerald nanti.”
“Saya kan emang mau ke arah sana. Kamu nebeng atau nggak, ya saya tetap ke sana.”
Monic terdiam sejenak, menimbang arah pulang. Rumahnya memang sejalur dengan Plaza Indonesia, dan itu membuatnya sedikit lega. Ongkos transportasi lumayan bisa ditekan, apalagi sekarang sudah masuk tanggal-tanggal kritis menjelang akhir bulan, saat dompet terasa semakin tipis.
Motornya masih terparkir rapi di kantor, tapi jaraknya terlalu jauh dan memutar jika ia harus kembali ke sana dulu. Rasanya tidak masuk akal hanya untuk mengambil kendaraan, sementara tubuhnya sudah lelah dan pikirannya ingin segera sampai di rumah.
Ia akhirnya memutuskan untuk membiarkan motornya menginap semalam di parkiran kantor. Toh, besok masih ada waktu untuk menjemputnya. Malam ini, yang ia butuhkan hanyalah perjalanan singkat menuju rumah, lalu rebahan di kasur yang sudah lama menunggu. Keputusan sederhana itu membuat langkahnya terasa lebih ringan, seolah ia baru saja memenangkan pertarungan kecil melawan rasa repot di akhir bulan.
“Gimana? Mau bareng nggak?” tawar Gerald sekali lagi
‘Come on, Monic. Kalau ada yang gratis, kenapa nggak dimanfaatkan?’
“Oke, Pak. Saya bareng aja. Terima kasih banyak ya, Pak, tapi ...”
“Ada masalah lain?” Gerald mengangkat sebelah alisnya.
Monic menatap atasannya ragu-ragu. “Anu Bapak buru-buru nggak? Soalnya saya anu ... harus ke toilet dulu. Kebelet. Dari tadi saya nahan-nahan.”
Awalnya Gerald hanya menatapnya datar, lalu seulas senyum geli muncul di sudut bibirnya.
“Oh,” gumam pria itu lirih. “Ya sudah sana. Cepat. Saya tunggu di lobi.”
“Oke, Pak!”
Lega, Monic bergegas mencari toilet. Namun, baru tiga langkah berjalan, Gerald memanggilnya lagi. Monic menoleh. Gerald melambaikan tangan ke arah barang bawaannya.
“Itu tinggal aja, Nic. Biar saya bawain,” kata Gerald.
“Hah?Aduh! Anu, nggak—”
“Memangnya nggak repot?”
Monic menatap barang bawannya sendiri. Selain tas kerjanya yang tersampir di punggung, Monic membawa goodie bag berisi banyak berkas dan dokumen serta satu tas selempang berisi laptop. Belum lagi satu tas berisi sampel produk pemberian klien yang dibawakan sebagai souvenir. Memang ribet dan banyak tentengan, tapi bukankah itu salah satu alasan Gerald menyuruhnya stafnya ikut saat bertugas di luar alias biar ada yang disuruh-suruh bawa tas?
“Tapi nggak apa-apa, Pak?” Monic ragu-ragu.
Gerald mengangguk dan malah menyuruh Monic segera ke toilet. Maka barang-barang bawaan itu segera berpindah tangan. Sehingga Monic hanya tinggal membawa tas kerjanya sendiri dan melenggang nyaman mencari toilet.
Ketika dia kembali, pemandangan yang Monic lihat sedikit nggak umum. Gerald berdiri di samping pintu keluar, menyandang tas selempang kulitnya di bahu kanan, tas laptop Monic di bahu kiri, goodie bag dokumen, serta paperbag souvenir di tangan kiri. Sementara tangan kanannya membawa botol air mineral
Nggak enak hati, Monic buru-buru menghampiri bosnya dan meminta kembali barang bawaannya. Namun, Gerald hanya mengulurkan tas souvenir dan tetap membawakan sisanya. Bahkan, pria itu mengulurkan botol air mineral masih tersegel yang entah dia dapatkan dari mana.
Ketika tiba di mobil Gerald, pria itu berjalan ke sisi kiri. Sontak langkah Monic terhenti melangkah. “Bapak mau saya yang bawa mobilnya?” tanya Monic bingung.
“Hah?” Gerald ikut menatapnya bingung. “Enggak,” jawabnya sambil membuka pintu penumpang dan menatap Monic.
Butuh waktu dua detik bagi Monic untuk paham bahwa Gerald membukakan pintu mobil untuknya. Lantas dia pun buru-buru masuk, takut menyita waktu lebih lama. Gerald menutup pintunya, lalu memasukkan barang-barang bawaannya ke jok belakang. Baru setelahnya Gerald masuk ke belakang kemudi.
Ketika roda mobil mulai bergerak, Monic juga mulai bertanya-tanya. Apakah perasaannya saja, atau sikap Gerald hari ini agak berbeda dan sedikit berlebihan, ya?
***
Kapan waktu yang tepat untuk membenci dan mencelakai sahabat baikmu sendiri? Menurut Monic, adalah saat dia mentertawakan kesialan yang menimpamu—sekaIigus ketololanmu.
“Ya Tuhan, Monic! Mendingan kamu hapus semua kontak kamu dulu deh kalau mau mabuk!” seru Ayuni, sebelum tertawa ngakak. “Drunk dialing-nya nggak kaleng-kaleng! Nggak pandang bulu!”
Monic mendengus sebal. Sahabat karibnya sejak bangku SMA ini terlihat puas sekali mentertawakannya. Kenapa Ayuni nggak berempati dengan musibah yang Monic alami? Meskipun Iucu bagi orang Iain, buat Monic kan itu musibah besar!
“Lagian kapan, sih, kamu teleponnya? Kok bisa lewat dari pantauan aku?”
“Itu dia, anjiirr!” seru Monic kesal. “Bisa-bisanya Kamu biarin aku pegang HP dan telepon orang pas lagi teler!”
Ayuni lagi-lagi tertawa. “Ya, aku kan enggak lihat, Say. Selama sama aku kayaknya aman. Lagian kebiasaan kamu sendiri, kenapa nyalahin orang lain, sih?!”
Monic berdecak sebal. Kebiasaan buruknya ini emang sering menimbulkan masalah. Monic juga nggak tahu kenapa jari-jarinya begitu lepas kontrol jika sudah dalam pengaruh alkohol. Bukan sekali atau dua kali Monic menelepon mantan pacarnya saat sedang mabuk parah.
Dia sudah melakukan banyak cara untuk mengatasi hal ini. Mulai dari membiarkan pulsa habis dan mematikan paket sebelum berniat minum-minum, menitipkan ponselnya kepada Ayuni, hingga menghapus dan memblokir nomor mantan-mantannya—bukan karena benci setengah mati atau nggak mau berurusan sama sekali dengan mereka, melainkan supaya Monic nggak iseng menelepon mereka saat sedang mabuk.
Namun, entah mengapa Monic-dalam-kondisi-mabuk selalu punya cara untuk melakukan drunk dial memalukan itu yang akan disesalinya begitu bangun. Alhasil, Monic menempuh opsi terakhir, meminta mantan pacarnya untuk memblokir nomor Monic atau mengabaikan saja jika Monic tiba-tiba menelepon di jam-jam yang nggak masuk akal.
Yah … apa gunanya itu sekarang? Tragedi telepon mantan memang nggak terjadi, tapi justru lebih parah. Drunk dial ke bosnya sendiri, dan entah apa saja yang dia ocehkan.
“Hmm, pantes kamu cuma pesan jus jeruk malam ini. Trauma rupanya,” ledek Ayuni.
Monic cemberut, tapi nggak bisa membela diri. Diaduk-aduknya gelas belimbing berisi jus jeruk itu. Ayuni benar, Monic memang trauma mendalam.