BAB 6

1735 Kata
“Update project Star Elephant. Sudah sampai mana?” Terdengar suara tenang dan dalam dari ujung meja meeting. Monic mendongak. Dilihatnya Desi, PIC project Star Elephant—sebuah perusahaan F&B dari luar negeri yang hendak memasuki pasar Indonesia dan akan membuka gerai pertamanya di salah satu kawasan gaul di Jakarta Selatan—segera menerangkan perkembangan perizinan yang tengah dibantu proses oleh InCorp. Gerald mendengaran dengan serius tanpa pernah menyela sampai Desi selesai. Barulah setelah itu Gerald memberikan poin-poin masukan—dan pastinya banyak kritikan. Masih kepada Desi, Gerald bertanya tentang project-project lain yang tengah Desi tangani. Monic boleh bersantai, karena dia sudah laporan dan dicecar sebelum Desi tadi. Meeting rutin ini berlangsung seminggu tiga kali, yaitu hari Senin, Rabu, dan Jumat. Fungsinya untuk tracking project-project non-litigasi yang sedang berjalan. Kalaupun Gerald berhalangan hadir, dia tetep minta update tertulis via email. Totalnya ada tiga orang legal assosiate termasuk Monic yang menangani project nonlitigasi yang berkisar di antara urusan perizinan pembuatan perusahaan baru, pembuatan kontrak, membantu perusahaan asing untuk memulai bisnis di Indonesia dan lain sebagainya. Sedangkan untuk proyek litigasi—atau berkaitan dengan pengadilan semisal sengketa tanah atau perseteruan dua pihak—Gerald punya tim sendiri yang isinya para junior lawyer yang sudah mengantongi gelar advokat. Monic? Tentu saja belum. Dia baru menyadari keinginan untuk berkarier di bidang hukum di usia 28 tahun, dan setelah dua tahun, dia baru berhasil lulus UPA—Ujian Profesi Advokat—tepatnya sebulan yang lalu. Seperti yang sudah-sudah, meeting rutin selalu berjalan dengan efektif. Karena gilirannya melapor sudah selesai, Monic jadi punya banyak kesempatan untuk memikirkan hal lain. Misalnya, menebak-nebak isi pikiran Gerald. Melihat respons Gerald tadi pagi, Monic sudah tiba pada satu keputusan tengang sikap yang harus diambilnya. Pura-pura tidak terjadi apa-apa. Ya, Monic akan pura-pura nggak ngeh telah menelepon bosnya pukul 2 dini hari, entah apa pun yang mereka perbincangkan. Namanya juga orang sedang dalam pengaruh alkohol. Wajar kalau dia nggak bisa mengingat dengan jelas apa saja yang dilakukan semalam. Jadi, selama Gerald nggak menyinggungnya, Monic akan tutup mulut dan hidup damai sejahtera. Toh, sepertinya Gerald juga nggak tertarik membahas hal itu. Mungkin dia memaklumi tindakan mabuk yang supertolol itu. Atau mungkin juga dia terlalu sibuk, dan kasus Monic terlalu nggak penting untuk dipikirkan. Yang mana pun, itu jelas sangat menguntungkan Monic. Meski demikian, Monic nggak bisa menahan diri untuk nggak menebak-nebak isi pikiran Gerald. Mengingat jumlah panggilan yang lebih dari satu, Monic bisa mengira-ngira apa yang terjadi semalam. Pada panggilan pertama yang hanya tiga menit, Monic pasti sudah melantur, dan Gerald menyadari bahwa Monic sedang mabuk. Pria itu pun mengakhiri telepon. Namun, Monic dengan sangat keras kepala—ya, Monic bisa sangat keras kepala dan pantang menyerah saat sedang mabuk—kembali menelepon dan memaksa Gerald untuk mendengar ocehannya selama hamper satu jam. Pertanyaannya, apa yang sebegitu mendesak sampai Monic ngeyel telepon lagi setelah ditutup? Apa yang begitu ingin Monic sampaikan sampai dia nggak tahu diri begiti? Dan kenapa Gerald akhirnya meladeni telepon Monic? Kenapa Gerald nggak menonaktifkan ponselnya saja? “Oke, begitu aja. Good job, Guys. Oh ya, hari ini saya mau ketemu sama calon klien kasus sengketa brand. Jadi saya bakal di luar seharian. Tapi kalau a masalah langsung kontak saya.” Gerald bangkit membawa buku agenda miliknya dan beranjak hendak keluar ruangan. Monic bersorak senang. Kalau Gerald nggak di kantor seharian, seenggaknya mentalnya terasa lebih tenang dan nyaman. Seenggaknya, dia nggak perlu deg-degan saat berpapasan atau sibuk menebak- nebak isi pikiran Gerald. “Monica.” “Ya?” Monic refleks mendongak, mencari siapa pun yang memanggil namanya. Gerald belum benar-benar keluar ruangan. Satu tangannya masih menahan gagang pintu. Pria itu menatap Monic, dan berkata, “Ke ruangan saya sebentar.” Detak jantung Monic langsung melonjak drastis. Kenapa Gerald memanggilnya ke ruangan? Kenapa Gerald ingin mengajaknya bicara secara pribadi? Kenapa Gerald nggak bicara di ruangan ini sekalian? Apa ini ada hubungannya dengan tragedi Sabtu dini hari? *** Apa contoh nyata dari tragedi diterbangkan setinggi langit, lalu diempas ke tanah dengan keras? Bagi Monic, khusus hari ini jawabannya adalah: sudah hepi karena atasan beragenda di luar kantor seharian, lalu mengetahui bahwa dia adalah bagian dari agenda itu. Benar, Monic nggak bisa ikut berbahagia karena ditinggal atasan, karena Gerald “membawanya” serta. Memang ini bukan kali pertama Monic “ngikut Bapak meeting”. Bapak yang dimaksud di sini tentu saja adalah Gerald—Adelia sering bertanya-tanya kenapa semua orang memanggil Gerald ‘Bapak’ padahal dia masih muda. Kadang-kadang staf entry level sepertinya diajak ikut meeting dan ditugasi untuk mengurusi notulen, MOU, dan lain sebagainya. Namun, kali ini agak beda. Mau nggak mau, Monic harus ingat obrolan mereka di ruangan Gerald tadi. “Kamu sudah lulus UPA, kan?” tanya Gerald. Monic mengangguk. Dia masih jiper dengan kemungkinan akan tiba di bahasan tentang tragedi drunk dial. Namun, setelah itu Gerald mengulurkan tumpukan berkas yang ada di mejanya. “Pelajari,” kata Gerald singkat. Mungkin karena Monic hanya menerima dokumen itu dengan pandangan gagal paham, Gerald menambahkan, “Itu kasus sengketa logo brand rumah makan Soto Ny. Halim sama Soto Halimah. Karena Vita sedang cuti melahirkan, kamu yang bantu saya urus ini, Monica.” Beruntung, saat itu Monic nggak mengeluarkan reaksi “ala keong” yang biasa dia lakukan saat terkejut dan terheran-heran. Ini tugas pertamanya yang berkaitan dengan litigasi! Alih-alih ber-hah-heh—serta melawan keras keinginannya sendiri untuk lonjak-lonjak—Monic bisa mengendalikan diri dengan tersenyum elegan serta berkata, “Baik, Pak. Terima kasih atas kesempatannya. Saya akan berikan yang terbaik!” janjinya serius, macam caleg sedang kampanye. “Habis ini kita meeting sama pihak Soto Halimah. Kemarin sebelum cuti, Vita sudah aturkan agenda meeting Next, kamu yang urus, ya.” Lantas, inilah yang terjadi sekarang. Monic menatap lurus jalanan yang padat merayap di depannya, sementara Gerald menyetir dengan tenang di sebelahnya. Benaknya bertanya-tanya, kenapa Gerald nggak memanfaatkan fasilitas mobil sekaligus supir kantor saja? Kenapa Gerald pilih pakai mobil sendiri, dan pastinya menyetir sendiri? By the way, Monic sudah menawarkan diri untuk menyetir, tapi Gerald menatapnya dengan alis terangkat, lalu dengan isyarat kedikan dagu menyuruhnya segera masuk ke kursi penumpang. 'Mungkin Gerald takut aku menyetir ugal-ugalan dan membahayakan mobilnya,' demikian Monic berpikir. Entah Monic harus merasakan apa saat ini. Di satu sisi, dia lega karena ternyata bukan soal drunk dial yang ingin Gerald bahas dengannya. Di sisi lain, Monic juga merasa benar-benar sedang sial karena ini artinya dia akan bertugas di lapangan berduaan dengan Gerald seharian. Ya, seharian, karena tadi Gerald bilang dia akan seharian di luar kantor. Hari-hari lain itu bukan masalah besar. Apalagi Gerald juga cukup royal dan nggak mungkin membiarkan anak buahnya kelaparan. Namun, ini adalah hari istimewa. Monic bisa tekanan mental jika terus-terusan berada di sisi Gerald. Bagaimana kalau dia keceplosan membahas soal tragedi itu? Dan bagaimana kalau Gerald yang keceplosan? 'Duh... kamu bikin dosa apa sih, Nic, di masa lalu sampai sesial ini?' gerutunya dalam hati. “Kamu baik-baik saja?” Pertanyaan pertama yang muncul dari Gerald selama perjalanan berlangsung sontak membuat Monic menoleh terkejut. Dipikirnya Gerald sedang berbincang di telepon, tapi pria itu sedang fokus menyetir. “Saya, Pak?” Monic memastikan. “Baik-baik saja kok. Memangnya kenapa, Pak?” tanyanya heran. “Kamu agak pendiam hari ini. Apa kurang enak badan?” 'Iya, mental saya agak terguncang. Pak.' “Ah, enggak, kok. Saya sehat walafiat, tapi terima kasih Pak Gerald sudah perhatian.” Monic menambahkan senyum lebar di wajahnya. “Tahu aja kalau belum ada yang nanyain kabar saya hari ini.” Oke, ini memang terlihat Iebih Monic daripada yang tadi. Monic yang biasa memang dikenal sebagai sosok yang ceria, rame, ceplas-ceplos, ekstrover parah yang selalu mengundang perhatian, dan akrab dengan siapa saja. Bahkan dengan Gerald yang agak-agak semi-semi kanebo kereing itu, Monic nggak segan-segan mengajaknya bercanda—walau responsnya kadang memang mengecewakan. Wajar kalau kemudian Gerald bertanya, setelah 10 menit perjalanan dan Monic cuma diam karena terlalu sibuk dengan ketakutannya sendiri. “Pekerjaan kamu saat ini apa overload?” tanya Gerald tiba-tiba berubah topik. “Hah? Oh, enggak. Masih bisa saya handle dengan baik kok, Pak. Cuman, karena ini hal baru, Pak Gerald jangan kaget, ya, kalau saya banyak tanya. Tapi tenang saja, saya anaknya suka belajar.” Monic meringis. “Bagus. Karena saya butuh orang buat mengisi posisi Vita selama dia cuti. Dan saya rasa kamu cocok.” Apa itu artinya akan ada semakin banyak panggilan pekerjaan last minute lagi? Ada lebih banyak lembur dadakan lagi? Rencana-rencana kencan yang gagal lagi? Ah, memangnya mau kencan sama siapa, Nic? Aris saja sudah sibuk PDKT dengan cewek lain. Alih-alih mengutarakan pertanyaannya, seperti biasa, Monic tersenyum sopan penuh antusias dan menjawab, “Siaap, Pak Gerald. Anything for you deh, Pak. Wah, gila itu rame banget!” seru Monic ketika mereka melewati sebuah kafe dengan parkiran yang penuh. “Eh tapi emang enak, sih, kopinya. Pak Gerald udah pernah coba?” Cara terbaik untuk pura-pura nggak tahu adalah dengan menjadi dirinya yang biasa. Jangan sampai ada gestur atau sesuatu yang aneh, yang bisa memancing Gerald untuk membahas kejadian itu. Misalnya, dengan mengalihkan perhatian pria itu pada hal lain. “Belum.” “Harus cobain kapan-kapan, Pak. Serius, nggak bakal ngecewain rasanya. Awalnya saya juga cuma kepo karena kafe itu lumayan hit di sosmed. Muncul terus di timeline. Lokasinya emang instagramable parah. Terus iseng-iseng saya cobain ke sana. Eh beneran enak. Favorit saya itu caramel macchiato.” “Oh, ya?” Monic mengangguk cepat. “Kopinya bener-bener niat, nggak cuma s**u sama gula. Baristanya juga baik-baik, dan sering ada live music.” Dengan lancar, Monic melakukan live review atas kafe favoritnya itu. “Terus yang paling keren sih mereka sedia berbagai opsi s**u. Ada s**u UHT, skim, soymflk, almond milk, dan pastinya oat milk yang selalu saya butuhin. Coffee shop kalau nggak nyediain opsi oat milk bakal langsung tercoret dari daftar, sih.” “Kenapa begitu?” “Saya, kan, nggak bisa minum s**u sapi.” “Lactosa intoleran?” “Asam lambung, Pak. Nggak cocok lambung saya sama s**u sapi.” “Oh.” See? Sebenarnya Gerald bukan atasan super duper kaku yang menyeramkan. Gerald bisa diajak ngobrol dan bercanda, meski ngobrol dengannya memang seperti cinta bertepuk sebelah tangan, Monic tahu pria itu mendengarkan. Mungkin deskripsi paling tepat untuk Gerald adalah tipe orang yang sangat profesional dan hanya bicara seperlunya, kecuali jika menyangkut pekerjaan. Jadi, dengan segala sifat positif itu, Monic sangat berharap banyak Gerald mau berbaik hati melupakan saja tragedi drunk dialing itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN